Salah satu unsur utama dari usaha distro atau clothing adalah bagaimana kita bisa mentransfer desain ke kaos atau produk-produk lainnya.
Nah, kuncinya adalah teknik penyablonan. Berikut salah satu teknik penyablonan dengan cara manual.
Pertama-tama yang harus disiapkan adalah bahan untuk membuat film dan alat sablonnya.
Bahan untuk membuat film adalah :
1. Kaca
2. Busa
3. Pencahayan yang cukup, bisa dari lampu maupun matahari.
Bahan untuk membuat alat sablon adalah:
1. Screen
Alat berbentuk mirip bingkai kayu dengan kain khusus di tengahnya. Ukurannya beragam, mulai dari 20×30cm hingga yang berukuran besar.
2. Rakel
digunakan untuk meratakan pasta cat, mirip batang memanjang dengan karet di bagian bawahnya.
3. Meja sablon
4. Triplek (digunakan untuk melapisi bagian dalam kaos ketika disablon)
Bahan untuk membuat adonan warna
1. Cat/tinta sablon
2. Pasta, berupa cairan-cairan tertentu untuk mengatur tingkat kekentalan tinta/cat. Beberapa yang bisa dipakai misalnya cairan M3, M3 super, thinner dll.
3. Ulano
4. Lem kayu
Begitu semua bahan siap (jangan lupa juga siapkan desain gambar yang akan disablon ke kaos), kita siap menyablon. Untuk melakukannya, ikuti langkah berikut.
1. Lapisi screen dengan ulano. Tunggu hingga benar-benar kering sebelum digunakan.
2. Fotokopi desain yang akan disablon ke fotokopi transaparan.
3. Transfer desain yang telah difotokopi tadi ke screen. Tutup bagian belakannya dengan kaca kemudian tempelkan gambar tadi di belakang screen.
4. Lapisi permukaan depan screen dengan busa yang ukurannya sama dengan screen.
5. Setelah “kue lapis” screen tadi terpasang sempurna, hadapkan ke matahari. Waktunya kurang lebih 1 menit. Ingat, jangan terlalu lama atau proses pemindahan film menjadi tidak sempurna. Proses ini bisa juga dilakukan dengan menggunakan cahaya lampu pijar. Hanya waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.
6. Jika proses pembuatan film telah berhasil, kita siap mencetak sablon. Siapkan kaos yang akan disablon. Masukan triplek ke dalam kaos untuk menjaga hasil sablom stabil dan sempurna.
7. Letakkan kaos di meja sablon. Kemudian pasang screen yang telah dibubuhi pasta cat ke atasnya. Setelah anda yakin posisinya sudah pas, gesek screen dengan rakel secara merata.
8. Setelah pasta cat rata, angkat screen dari kaos. Keringkan kaos dan kaos siap digunakan atau lenjut ke proses berikutnya.
Read More..
Usaha percetakan membutuhkan berbagai proses untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan sehingga mereka akan mencetak ulang. Usaha ini bisa dilakukan pada pagi hari atau malam hari, tergantung pesanan. Jika pesanan semakin besar, maka waktu yang dibutuhkan juga semakin banyak sehingga mesin bekerja 24 jam.Salah satu peralatan yang dibutuhkan adalah mesin cetak.
Mesin yang sering dipergunakan dikenal sebagai mesin Toko yang harga terbarunya Rp 75 juta. Mesin ini mampu mencetak sebanyak 5.000 lembar per jam dengan isian satu folio, tetapi hanya mencetak satu warna (hitam-putih). Anda dapat juga memakai mesin bekas yang harganya Rp 25 juta-Rp 30 juta, tergantung usia mesin.
Umumnya orang yang memulai usaha ini menggunakan mesin bekas, sekalian belajar mengenal mesin dan memahami problem permesinan. Apabila usaha sudah semakin besar, maka dapat digunakan mesin yang lebih mahal yang saat ini harganya sekitar Rp 3 miliar. Mesin ini dapat mencetak empat warna dengan kemampuan 10.000 lembar dengan isian 9 folio.
Harga mesin bekas dengan kemampuan sama sekitar Rp 700 juta untuk mesin buatan tahun 1994. Biasanya pengusaha yang berpengalaman dalam usaha ini tidak membeli mesin terbaru jika order yang diterima besarnya tidak enam kali harga mesin. Uraian penggunaan mesin sudah jelas menyatakan, usaha ini harus dimulai dengan mesin bekas.
Selanjutnya, dibutuhkan mesin potong kertas karena sangat vital sekali untuk membuat rapi hasil cetakan. Harga mesin potong kertas terbaru Rp 17 juta, tetapi pengusaha dapat juga mencari mesin bekas dengan harga minimum Rp 10 juta dengan kemampuan masih dapat diandalkan. Agar mesin potong tidak mubazir, pengusaha dapat menerima pesanan potong kertas dengan pendapatan Rp 500 per kilogram kertas.
Pengusaha juga dapat membeli mesin master, tetapi sebaiknya pekerjaan diberikan kepada pemilik mesin saja. Sekarang ini satu master seharga Rp 5.000. Jika banyak pekerjaan membuat master, maka mesin ini diperlukan.
Pengusaha juga memerlukan operator mesin yang sekaligus memelihara mesin. Pengusaha sebaiknya merekrut mereka yang lulus STM jurusan mesin agar pengusaha tidak kerepotan apabila mesin rusak. Gaji operator Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta. Kemudian, dibutuhkan pembuat lay-out memakai komputer dengan pendidikan minimum SLTA dengan gaji Rp 750.000 per bulan.
Resiko Usaha
Memulai usaha ini dapat menggunakan gedung minimum 50-100 meter persegi dengan biaya sewa Rp 7,5 juta-Rp 15 juta per tahun. Letak gedung usaha sebaiknya di pinggir jalan supaya bisa dilihat berbagai pihak, terkecuali target pasarnya sangat berbeda. Apabila pesanan sudah banyak, maka pengusaha dapat menggunakan ruko dengan sewa Rp 75 juta per tahun.
Pengusaha juga harus mempunyai pegawai rendahan, minimum satu orang, dengan gaji sebesar biaya UMR. Tugas mereka mengantarkan barang dan merapikan hasil cetakan. Biaya listrik dan air tergantung pemakaian. Pengusaha minimum membayar listrik sebesar Rp 500.000 per bulan.
Dalam memproses cetakan, pengusaha membutuhkan tinta cetak, flat, dan buruh yang biayanya sekitar 10 persen dari nilai produksi. Secara kasar perhitungan hasil cetakan, ongkos cetak secara rata-rata Rp 10 per lembar. Jika menambah satu warna, maka tambahan biaya sekitar Rp 10. Sebagai bahan cetakan, minimal adalah kertas HVS 70 gram yang harganya Rp 50-Rp 55 per lembar. Jika memakai HVS 80 gram, maka biayanya Rp 60 per lembar.
Biaya pokok produksi telah diuraikan, selanjutnya harga jual produk cetakan dinilai dengan harga pokok produksi ditambah margin yang diinginkan. Pengusaha percetakan biasanya mengambil margin 25 persen, tetapi bisa lebih kecil apabila pesanan cetakan semakin banyak.
Pemasaran bisnis dapat dimulai dengan mencetak keperluan kantor sehingga dapat melakukan penawaran ke kantor-kantor. Teman terdekat sebagai pelanggan pertama dapat dipergunakan. Namun, banyak juga pengusaha yang mengejar cetakan dari departemen karena sekali mencetak pesanan sangat banyak. Hubungan baik dengan berbagai pihak sangat diperlukan untuk mendapatkan pesanan besar.
Uraian sebelumnya memberi gambaran bahwa apabila ingin memulai usaha ini dapat dilakukan dengan modal Rp 75 juta. Pengusaha harus bekerja keras dalam satu atau dua tahun pertama, terutama untuk mendapatkan pelanggan. Risiko utama bisnis ini adalah tidak adanya pelanggan. Kualitas produk harus diperhatikan pengusaha supaya pelanggan semakin banyak.
Selamat berinvestasi dan berbisnis.
kompas.com
Read More..
Mesin yang sering dipergunakan dikenal sebagai mesin Toko yang harga terbarunya Rp 75 juta. Mesin ini mampu mencetak sebanyak 5.000 lembar per jam dengan isian satu folio, tetapi hanya mencetak satu warna (hitam-putih). Anda dapat juga memakai mesin bekas yang harganya Rp 25 juta-Rp 30 juta, tergantung usia mesin.
Umumnya orang yang memulai usaha ini menggunakan mesin bekas, sekalian belajar mengenal mesin dan memahami problem permesinan. Apabila usaha sudah semakin besar, maka dapat digunakan mesin yang lebih mahal yang saat ini harganya sekitar Rp 3 miliar. Mesin ini dapat mencetak empat warna dengan kemampuan 10.000 lembar dengan isian 9 folio.
Harga mesin bekas dengan kemampuan sama sekitar Rp 700 juta untuk mesin buatan tahun 1994. Biasanya pengusaha yang berpengalaman dalam usaha ini tidak membeli mesin terbaru jika order yang diterima besarnya tidak enam kali harga mesin. Uraian penggunaan mesin sudah jelas menyatakan, usaha ini harus dimulai dengan mesin bekas.
Selanjutnya, dibutuhkan mesin potong kertas karena sangat vital sekali untuk membuat rapi hasil cetakan. Harga mesin potong kertas terbaru Rp 17 juta, tetapi pengusaha dapat juga mencari mesin bekas dengan harga minimum Rp 10 juta dengan kemampuan masih dapat diandalkan. Agar mesin potong tidak mubazir, pengusaha dapat menerima pesanan potong kertas dengan pendapatan Rp 500 per kilogram kertas.
Pengusaha juga dapat membeli mesin master, tetapi sebaiknya pekerjaan diberikan kepada pemilik mesin saja. Sekarang ini satu master seharga Rp 5.000. Jika banyak pekerjaan membuat master, maka mesin ini diperlukan.
Pengusaha juga memerlukan operator mesin yang sekaligus memelihara mesin. Pengusaha sebaiknya merekrut mereka yang lulus STM jurusan mesin agar pengusaha tidak kerepotan apabila mesin rusak. Gaji operator Rp 1,5 juta-Rp 2,5 juta. Kemudian, dibutuhkan pembuat lay-out memakai komputer dengan pendidikan minimum SLTA dengan gaji Rp 750.000 per bulan.
Resiko Usaha
Memulai usaha ini dapat menggunakan gedung minimum 50-100 meter persegi dengan biaya sewa Rp 7,5 juta-Rp 15 juta per tahun. Letak gedung usaha sebaiknya di pinggir jalan supaya bisa dilihat berbagai pihak, terkecuali target pasarnya sangat berbeda. Apabila pesanan sudah banyak, maka pengusaha dapat menggunakan ruko dengan sewa Rp 75 juta per tahun.
Pengusaha juga harus mempunyai pegawai rendahan, minimum satu orang, dengan gaji sebesar biaya UMR. Tugas mereka mengantarkan barang dan merapikan hasil cetakan. Biaya listrik dan air tergantung pemakaian. Pengusaha minimum membayar listrik sebesar Rp 500.000 per bulan.
Dalam memproses cetakan, pengusaha membutuhkan tinta cetak, flat, dan buruh yang biayanya sekitar 10 persen dari nilai produksi. Secara kasar perhitungan hasil cetakan, ongkos cetak secara rata-rata Rp 10 per lembar. Jika menambah satu warna, maka tambahan biaya sekitar Rp 10. Sebagai bahan cetakan, minimal adalah kertas HVS 70 gram yang harganya Rp 50-Rp 55 per lembar. Jika memakai HVS 80 gram, maka biayanya Rp 60 per lembar.
Biaya pokok produksi telah diuraikan, selanjutnya harga jual produk cetakan dinilai dengan harga pokok produksi ditambah margin yang diinginkan. Pengusaha percetakan biasanya mengambil margin 25 persen, tetapi bisa lebih kecil apabila pesanan cetakan semakin banyak.
Pemasaran bisnis dapat dimulai dengan mencetak keperluan kantor sehingga dapat melakukan penawaran ke kantor-kantor. Teman terdekat sebagai pelanggan pertama dapat dipergunakan. Namun, banyak juga pengusaha yang mengejar cetakan dari departemen karena sekali mencetak pesanan sangat banyak. Hubungan baik dengan berbagai pihak sangat diperlukan untuk mendapatkan pesanan besar.
Uraian sebelumnya memberi gambaran bahwa apabila ingin memulai usaha ini dapat dilakukan dengan modal Rp 75 juta. Pengusaha harus bekerja keras dalam satu atau dua tahun pertama, terutama untuk mendapatkan pelanggan. Risiko utama bisnis ini adalah tidak adanya pelanggan. Kualitas produk harus diperhatikan pengusaha supaya pelanggan semakin banyak.
Selamat berinvestasi dan berbisnis.
kompas.com
Read More..
Bila Anda ada yang tertarik untuk memulai dan menekuni bisnis / usaha di bidang desain grafis atau jasa setting komputer untuk percetakan, maka alangkah baiknya jika Anda mengetahui “peralatan minimal apa saja” yang harus dipersiapkan untuk memulai usaha tersebut.
Untuk memulai serta menekuni usaha desain grafis atau setting komputer, maka peralatan desain grafis “minimal” yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:
1. Komputer
Untuk perangkat komputer, sebaiknya dipersiapkan spesifikasi yang mendukung pekerjaan-pekerjaan untuk desain grafis, dan jangan lupa juga.. harus tersedia sebuah CD-ROM/RW atau DVD-ROM/RW untuk membaca data dari kepingan CD maupun untuk memburning (membakar/menyimpan) data hasil desain ke dalam sebuah kepingan CD atau kepingan DVD.
2. Perangkat Lunak (Software)
Sebenarnya untuk masing-masing sistem operasi (operating system), tentu mempunyai software aplikasi desain grafis yang berbeda-beda, tetapi di dunia percetakan, pada umumnya masih menggunakan Windows sebagai sistem operasinya. Maka dikarenakan hal tersebut, software desain grafis yang biasa dipergunakan adalah CorelDraw serta Adobe Photoshop. Sedangkan software aplikasi seperti Macromedia FreeHand, Adobe page maker, dan sebagainya, bisa ditambahkan sebagai software pelengkap aplikasi desain grafis lainnya.
3. Scanner
Scanner juga tidak kalah penting, karena tanpa scanner kita tidak bisa meniru gambar dengan bentuk dan ukuran gambar yang sama persis dengan contoh gambar desain yang telah ada. Dengan scanner, kita bisa memasukkan sebuah contoh desain ke dalamnya untuk discan, dan hasil scan tersebut bisa diolah/ditiru oleh aplikasi desain grafis untuk dibuat menjadi sebuah naskah desain yang baru.
4. Printer
Printer yang harus dimiliki oleh seseorang yang bergerak di usaha desain grafis untuk percetakan itu harus bisa mencetak naskah dengan warna hitam pekat maupun berwarna. Biasanya seorang desainer grafis, minimal harus mempunyai:
* Laser Printer berwarna hitam: untuk mencetak/memprinting naskah desain ke atas kertas HVS maupun kertas kalkir.
* Inkjet Printer berwarna: untuk mencetak/memprinting contoh naskah desain atau pun mengerjakan cetakan jadi secara langsung.
5. Kertas
* HVS (cukup 70 gsm). Pilihlah merk kertas yang memiliki hasil cetak yang rapih dan membuat tinta tidak meluber, karena bisa berpengaruh kepada hasil cetakan. Hasil cetak dengan kertas HVS ini digunakan jika pelat cetak yang akan digunakan di mesin cetak adalah plat kertas/paper plate.
* Kertas kalkir. Hasil cetak dari printer ke kertas kalkir diperlukan bila plate yang akan digunakan ke mesin cetak adalah plat aluminium/aluminium plate. Dan biasanya hasil cetak kalkir ini lebih baik dari hasil cetak di kertas sehingga berpengaruh juga ke kualitas hasil proses selanjutnya. Tetapi tentu saja tidak sebaik hasil cetak dengan menggunakan film.
* Glossy paper, dan kertas lainnya (sebagai pelengkap, serta tidak menjadi keharusan)
6. Kepingan CD (Compact Disc)
Kepingan CD kosong perlu disediakan sebagai tempat untuk menyimpan data hasil desain, karena belum tentu konsumen yang datang membawa sebuah kepingan CD atau sebuah flshdisk dan sebagainya, untuk menyimpan data hasil desain tersebut.
7. Penggaris (Mistar)
Untuk membuat ukuran desain sesuai dengan contoh yang telah ada/jadi, tentu saja penggaris diperlukan untuk mengukur contoh yang telah ada/jadi tersebut, untuk kemudian ukurannya disesuaikan pada desain di komputer. Penggaris yang digunakan sebaiknya terbuat dari logam, karena penggaris tersebut sewaktu-waktu diperlukan pada saat pemotongan kertas.
8. Pisau Pemotong Kertas (Cutter)
Terkadang sebuah cutter diperlukan juga oleh seorang desainer grafis untuk memotong kertas hasil desain.
9. Plastik
Plastik diperlukan sebagai kemasan/tempat untuk menyimpan kertas yang berisi naskah hasil desain, supaya terlindungi dari kusut, debu, kotoran, dan sebagainya. Ukuran plastik disesuaikan (lebih besar sedikit dari kertas).
Read More..
Untuk memulai serta menekuni usaha desain grafis atau setting komputer, maka peralatan desain grafis “minimal” yang harus dipersiapkan adalah sebagai berikut:
1. Komputer
Untuk perangkat komputer, sebaiknya dipersiapkan spesifikasi yang mendukung pekerjaan-pekerjaan untuk desain grafis, dan jangan lupa juga.. harus tersedia sebuah CD-ROM/RW atau DVD-ROM/RW untuk membaca data dari kepingan CD maupun untuk memburning (membakar/menyimpan) data hasil desain ke dalam sebuah kepingan CD atau kepingan DVD.
2. Perangkat Lunak (Software)
Sebenarnya untuk masing-masing sistem operasi (operating system), tentu mempunyai software aplikasi desain grafis yang berbeda-beda, tetapi di dunia percetakan, pada umumnya masih menggunakan Windows sebagai sistem operasinya. Maka dikarenakan hal tersebut, software desain grafis yang biasa dipergunakan adalah CorelDraw serta Adobe Photoshop. Sedangkan software aplikasi seperti Macromedia FreeHand, Adobe page maker, dan sebagainya, bisa ditambahkan sebagai software pelengkap aplikasi desain grafis lainnya.
3. Scanner
Scanner juga tidak kalah penting, karena tanpa scanner kita tidak bisa meniru gambar dengan bentuk dan ukuran gambar yang sama persis dengan contoh gambar desain yang telah ada. Dengan scanner, kita bisa memasukkan sebuah contoh desain ke dalamnya untuk discan, dan hasil scan tersebut bisa diolah/ditiru oleh aplikasi desain grafis untuk dibuat menjadi sebuah naskah desain yang baru.
4. Printer
Printer yang harus dimiliki oleh seseorang yang bergerak di usaha desain grafis untuk percetakan itu harus bisa mencetak naskah dengan warna hitam pekat maupun berwarna. Biasanya seorang desainer grafis, minimal harus mempunyai:
* Laser Printer berwarna hitam: untuk mencetak/memprinting naskah desain ke atas kertas HVS maupun kertas kalkir.
* Inkjet Printer berwarna: untuk mencetak/memprinting contoh naskah desain atau pun mengerjakan cetakan jadi secara langsung.
5. Kertas
* HVS (cukup 70 gsm). Pilihlah merk kertas yang memiliki hasil cetak yang rapih dan membuat tinta tidak meluber, karena bisa berpengaruh kepada hasil cetakan. Hasil cetak dengan kertas HVS ini digunakan jika pelat cetak yang akan digunakan di mesin cetak adalah plat kertas/paper plate.
* Kertas kalkir. Hasil cetak dari printer ke kertas kalkir diperlukan bila plate yang akan digunakan ke mesin cetak adalah plat aluminium/aluminium plate. Dan biasanya hasil cetak kalkir ini lebih baik dari hasil cetak di kertas sehingga berpengaruh juga ke kualitas hasil proses selanjutnya. Tetapi tentu saja tidak sebaik hasil cetak dengan menggunakan film.
* Glossy paper, dan kertas lainnya (sebagai pelengkap, serta tidak menjadi keharusan)
6. Kepingan CD (Compact Disc)
Kepingan CD kosong perlu disediakan sebagai tempat untuk menyimpan data hasil desain, karena belum tentu konsumen yang datang membawa sebuah kepingan CD atau sebuah flshdisk dan sebagainya, untuk menyimpan data hasil desain tersebut.
7. Penggaris (Mistar)
Untuk membuat ukuran desain sesuai dengan contoh yang telah ada/jadi, tentu saja penggaris diperlukan untuk mengukur contoh yang telah ada/jadi tersebut, untuk kemudian ukurannya disesuaikan pada desain di komputer. Penggaris yang digunakan sebaiknya terbuat dari logam, karena penggaris tersebut sewaktu-waktu diperlukan pada saat pemotongan kertas.
8. Pisau Pemotong Kertas (Cutter)
Terkadang sebuah cutter diperlukan juga oleh seorang desainer grafis untuk memotong kertas hasil desain.
9. Plastik
Plastik diperlukan sebagai kemasan/tempat untuk menyimpan kertas yang berisi naskah hasil desain, supaya terlindungi dari kusut, debu, kotoran, dan sebagainya. Ukuran plastik disesuaikan (lebih besar sedikit dari kertas).
Read More..
Mungkin ini sedikit tips aja…dan mungkin ada bro2 sekalian yang hobi buat ngedesain / sablon baju sendiri & untk dijual he2… menggunakan digital sablon, digital printing atau cetak digital
Satu hal yang pasti, harus simple
ini menjadi pakem utama dalam pembuatan desain baju saat ini. Pembuatan baju yang sederhana akan menghemat biaya dan tentunya sesuai filosofi awalnya akan menjadi lebih murah. Walaupun mungkin pengaruh desain minimalis ikut berperan didalamnya.
Mulai dengan permainan layout font dalam menyablon souvenir pernikahan, gantungan kunci atau baju kaos
permainan font adalah cara paling mudah untuk mendapatkan basic feel atas suatu desain baju yang sederhana tetapi masih inline dengan semangat awalnya, yaitu simplisitas.
sebuah font sans serif seperti arial atau yang lebih bagus seperti Helvetica cukup baik untuk digunakan sebagai fokus utama dalam desain dengan base layout font. Bila mau lebih advanced, anda bisa mengubah warnanya menjadi lebih menarik, misalnya dengan warna merah atau yang lain, dan bila mau, bisa sedikit merobek desain anda supaya terlihat efek usang, atau seperti produk sablon yang telah mengelupas
Tambahkan pemanis berupa gambar
Karena desain baju pada awalnya biasanya menggunakan teknik sablon, maka desain dengan gradasi biasanya susah dikerjakan, oleh karena itulah muncul aliran desain yang menggunakan teknik trace dan kontras hitam putih, cara untuk mendapatkan efek ini sebenarnya mudah, biasanya saya akan memulai dengan program Photoshop. Photoshop sangat membantu untuk menseting kontras hitam-putih sehingga akan lebih mudah untuk di trace diprogram pengubah bitmap ke vektor, seperti Corel Trace.
Gunakan alat sablon berkualitas
gunakan alat sablon yang berkualitas untuk mendapatkan hasil terbaik untuk baju anda, tentunya alat – alat tersebut dapat di beli di toko percetakan.sering -seringlah bertanya pada ahli sablon seperti jasa percetakan, jasa sablon atau juga toko sablon.
Read More..
Satu hal yang pasti, harus simple
ini menjadi pakem utama dalam pembuatan desain baju saat ini. Pembuatan baju yang sederhana akan menghemat biaya dan tentunya sesuai filosofi awalnya akan menjadi lebih murah. Walaupun mungkin pengaruh desain minimalis ikut berperan didalamnya.
Mulai dengan permainan layout font dalam menyablon souvenir pernikahan, gantungan kunci atau baju kaos
permainan font adalah cara paling mudah untuk mendapatkan basic feel atas suatu desain baju yang sederhana tetapi masih inline dengan semangat awalnya, yaitu simplisitas.
sebuah font sans serif seperti arial atau yang lebih bagus seperti Helvetica cukup baik untuk digunakan sebagai fokus utama dalam desain dengan base layout font. Bila mau lebih advanced, anda bisa mengubah warnanya menjadi lebih menarik, misalnya dengan warna merah atau yang lain, dan bila mau, bisa sedikit merobek desain anda supaya terlihat efek usang, atau seperti produk sablon yang telah mengelupas
Tambahkan pemanis berupa gambar
Karena desain baju pada awalnya biasanya menggunakan teknik sablon, maka desain dengan gradasi biasanya susah dikerjakan, oleh karena itulah muncul aliran desain yang menggunakan teknik trace dan kontras hitam putih, cara untuk mendapatkan efek ini sebenarnya mudah, biasanya saya akan memulai dengan program Photoshop. Photoshop sangat membantu untuk menseting kontras hitam-putih sehingga akan lebih mudah untuk di trace diprogram pengubah bitmap ke vektor, seperti Corel Trace.
Gunakan alat sablon berkualitas
gunakan alat sablon yang berkualitas untuk mendapatkan hasil terbaik untuk baju anda, tentunya alat – alat tersebut dapat di beli di toko percetakan.sering -seringlah bertanya pada ahli sablon seperti jasa percetakan, jasa sablon atau juga toko sablon.
Read More..
Percetakan adalah sebuah proses industri untuk pemproduksikan massal tulisan dan gambar, terutama dengan tinta di atas kertas menggunakan sebuah mesin cetak. Dia merupakan sebuah bagian penting dalam penerbitan dan percetakan transaksi.Banyak buku dan koran sekarang ini biasanya dicetak menggunakan teknik percetakan offset. Biasanya imaji yang akan dicetak terlebih dahulu dilukiskan ke atas pelat offset dengan bantuan printer laser kemudian pelat ini akan diolah mesin cetak menjadi pola penintaan yang akan ditimpakan ke atas kertas cetak. Warna-warna bisa didapatkan dengan menimpakan beberapa pola warna dari setiap pelat offset sekaligus.
Teknik percetakan umum lainnya termasuk cetak relief, sablon, rotogravure, dan percetakan berbasis digital seperti pita jarum, inkjet, dan laser.
Dikenal pula teknik cetak poly untuk pemberian kesan emas dan perak ke atas permukaan dan cetak emboss untuk memberikan kesan menonjol kepada kertas.
Sejarah
Kemungkinan besar percetakan pertama kali ditemukan untuk mempermudah penduplikasian Injil. Jika sebelumnya ditulis dengan tangan di ruang scriptoria, maka sejak zaman renaisans manusia mulai berpikir untuk mempercepat proses ini lewat produksi massal.
Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan sentra kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.
Relief uang logam menimbulkan ide untuk membuat permukaan dengan tinggi bervariasi.
Hal ini dikenal dengan nama cetak tinggi.
Wikipedia
Read More..
Langganan:
Entri (Atom)



